Sunday, January 26, 2014
Extra Corporeal Membrane Oxygenator (ECMO)
...Extra Corporeal Life Support (ECLS) atau terkadang dikenal dengan Prolong Life Support (PLS) atau Mechanical Assist Devices.... Sekali terjun pantang Mundur....bersambung..
Friday, August 10, 2012
Lima perkara sebelum Lima perkara
1. Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu
2. Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
3. Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu
4. Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu
5. Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu
Salah Satu INVESTASI Masa Depan
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya."(Hadits shahih riwayat Muslim )
Wednesday, August 03, 2011
Satu Paket Tantangan Kehidupan
Tantangan dan problema kehidupan akan terus datang menerjang, silih berganti antara kemudahan kehidupan yang kita dapat. Karena memang dalam kehidupan ini kita harus menerima semua komponen dalam satu paket. Jika ada lelaki ada perempuan, ada kemudahan ada kesulitan, ada baik dan buruk, ada halal dan haram begitu seterusnya. Oleh karena itu hendaknya diri ini terus berusaha mengkayakan hati dengan kesadaran dan kesungguhan mendekati ridlo Nya, akan menganggap bahwa permasalahan yang
datang ibarat udara yang menerpa wajah, bisa jadi menyejukan wajah, bisa jadi membersihkan muka, dan bahkan bisa jadi menyebarkan semerbak harumnya udara di
sekitar kita.
…astaghfirullaah...
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan”(QS 94 : 5-6)
Semoga tetap terus bisa istiqomah
(...Copas darimana udah lupa....)
datang ibarat udara yang menerpa wajah, bisa jadi menyejukan wajah, bisa jadi membersihkan muka, dan bahkan bisa jadi menyebarkan semerbak harumnya udara di
sekitar kita.
…astaghfirullaah...
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan”(QS 94 : 5-6)
Semoga tetap terus bisa istiqomah
(...Copas darimana udah lupa....)
Monday, March 22, 2010
....di pagi ini.....
Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahu Akbar...Ya Rabb Kembali HambaMu bersujud menyebut namaMU membayangkan seluruh keagunganMU, mohon ampun atas segala dosa dan bersyukur atas karuniaMU....
....loading.........
....loading.........
Tuesday, June 02, 2009
Sejuknya udara Pagi Bekasi Timur
Ehmmmm.....segar....jalanan pedesaan bekasi timur...tapi setelah itu pengap dengan polusi setelah 10 menit berlalu. Polusi arena balap jalanan....Bekasi Timur menuju grogol...Penuh dengan motor yang menyemut merayap cepat dan pasti...
Saturday, March 14, 2009
Tantangan Kehidupan
Tantangan dan problema kehidupan akan terus datang menerjang, silih berganti antara kemudahan kehidupan yang kita dapat. Karena memang dalam kehidupan ini kita harus menerima semua komponen dalam satu paket. Jika ada lelaki ada perempuan, ada kemudahan ada kesulitan, ada baik dan buruk, ada halal dan haram begitu seterusnya. Oleh karena itu hendaknya diri ini terus berusaha mengkayakan hati dengan kesadaran dan kesungguhan mendekati ridlo Nya, akan menganggap bahwa permasalahan yang
datang ibarat udara yang menerpa wajah, bisa jadi menyejukan wajah, bisa jadi membersihkan muka, dan bahkan bisa jadi menyebarkan semerbak harumnya udara di
sekitar kita.
…astaghfirullaah...
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan”(QS 94 : 5-6)
Semoga tetap terus bisa istiqomah
datang ibarat udara yang menerpa wajah, bisa jadi menyejukan wajah, bisa jadi membersihkan muka, dan bahkan bisa jadi menyebarkan semerbak harumnya udara di
sekitar kita.
…astaghfirullaah...
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan”(QS 94 : 5-6)
Semoga tetap terus bisa istiqomah
Thursday, January 01, 2009
MENGELUH
Menjelang pergantian Tahun, Beberapa waktu yang lalu saya berkumpul dengan teman-teman saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, dan berbagai macam hal lainnya mengenai interaksi dalam ukhuwah yang mungkin ternodai oleh kesalahpahaman.
Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain sepertinya saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing. Akhirnya ketika termenung sejenak didepan laptop tercinta,terbersitlah sebuah artikel perihal fenomena yang sesaat yang lalu dilalui. Bahkan ini yang mungkin kita temui setiap saat buat kita semua. Mengeluh...ya mengeluh adalah sebuah kebiasaan atau perbuatan yang bisa timbul kapan saja tanpa mengenal waktu-tempat dan siapapun itu orangnya. Sebuah kata yang mungkin tak terpikirkan secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar.
Adapun petikan-petikan pembahasan dalam diartikel tersebut antara lain:
"Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!"
"Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan "job-des" gue"
"Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu".
Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya.
Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya.
Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.
Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.
Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia?
Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan.
Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.
Try it now:
1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari.
Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.
"Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."
NB ; Matur Nuwun bagi penulis asli artikel diatas.... Maklum lagi pas momentnya
Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain sepertinya saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing. Akhirnya ketika termenung sejenak didepan laptop tercinta,terbersitlah sebuah artikel perihal fenomena yang sesaat yang lalu dilalui. Bahkan ini yang mungkin kita temui setiap saat buat kita semua. Mengeluh...ya mengeluh adalah sebuah kebiasaan atau perbuatan yang bisa timbul kapan saja tanpa mengenal waktu-tempat dan siapapun itu orangnya. Sebuah kata yang mungkin tak terpikirkan secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar.
Adapun petikan-petikan pembahasan dalam diartikel tersebut antara lain:
"Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!"
"Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan "job-des" gue"
"Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu".
Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya.
Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya.
Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.
Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.
Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia?
Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan.
Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.
Try it now:
1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari.
Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.
"Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."
NB ; Matur Nuwun bagi penulis asli artikel diatas.... Maklum lagi pas momentnya
Perfusionist
You're a what? Perfusionist
Matthew Mariani
Desktop publisher for the OOQ
You breathe. Your blood absorbs oxygen from your lungs. Your heart pumps the blood, transporting oxygen to all the cells of your body. If this natural rhythm stops, you will die.
Or maybe not. Under certain circumstances, a highly trained medical professional called a perfusionist can sustain the life of a person whose heart has been stopped. David Holt is such a professional. He uses biomedically engineered devices that support the vital life functions normally performed by the heart and lungs. Most commonly, perfusionists operate a heart-lung machine to keep a patient alive during open heart surgery. But their skills have other applications, too.
Holt flashes back to his early days as a perfusionist in describing the typical duties of the occupation. When assisting in a scheduled open heart surgery, Holt comes in to the hospital at 6 a.m., collects all the components of the heart-lung machine, assembles them aseptically, and makes sure the equipment works perfectly. Then, he waits for his cue.

A surgeon connects the patient to the heart-lung machine by inserting tubular instruments, called cannulas, into the proper blood vessels to bypass the heart and lungs. When the surgeon gives the order, Holt administers a drug that stops the patient’s heart. "Then the surgeons do their magic," says Holt, "while the perfusionist manages the patient’s lungs and bloodflow using the heart-lung machine."
Holt monitors the machine as it draws blood from the patient, adds oxygen, removes carbon dioxide, and then pumps the blood back into circulation. He adjusts the equipment as needed to ensure proper blood pressure and flow during the surgery
"It sounds simple," Holt says of his work, "but it takes somebody who can see small changes in events, evaluate them in rapid sequence, and think clearly in a highly volatile situation. Perfusionists have to be brave and believe in themselves and their training. They have to work well with other people, because they don’t work alone. They work with a surgeon and an anesthesiologist as part of a team."
According to Holt, the average cardiac surgery takes a little more than 3 hours. Often, a perfusionist has additional roles before and after surgery. Holt may help prepare for a surgery using cardiovascular monitoring techniques. "The heart is a complex pump," he says, "and to get the proper information, we need the proper monitoring devices in place."

In addition, Holt may use devices that assist the functioning of a failing heart to keep a patient alive until surgery can be done. He also may use such devices for days or weeks after surgery to support circulation until the heart regains its strength. Some perfusionists acquire expertise in pacing technology, as well. They help restart a patient’s heart after cardiac surgery or stabilize an irregular heartbeat using electrical pacemakers or defibrillating devices.

Like most perfusionists, Holt does not have a set work schedule. He spends some time on call and may have to rush to the hospital for an emergency. "If you’re a clock watcher," he says, "you could not do the job. It’s a 24-hour-a-day, 7-day-a-week responsibility."
Most perfusionists spend all of their work hours in a hospital—as did Holt, when he started out 24 years ago. Although he still does perfusion, Holt now changes locales more often than the average perfusionist. He currently works for a medical transport company and serves as a professor of perfusion science.

Holt’s job with the medical transport company sends him around the country and around the world. He may work in the back of an ambulance, in a helicopter, in a jet, or from anyplace in which he has access to a computer that is connected to a modem.
Holt supports critically ill cardiac patients in transit to distant medical facilities where specialized heart surgeries are done. "I’ve done cardiac assist transports from as far away as Malaysia to the Mayo Clinic in Rochester, Minnesota," he says. "In that case, it was for a heart transplant." Oftentimes, Holt does not actually travel with the patient. "I’m able to dial in to cardiac monitoring devices from a remote location," he says, "and communicate with medical personnel by fax or cell phone to help manage a patient’s circulatory function and assist in troubleshooting."
As an instructor at the Ohio State University and at the University of Nebraska Medical College, Holt trains perfusionists through extensive hands-on practice and lectures. He shows students how to assemble, prime, and operate a heart-lung machine and related devices. The students must learn by practicing on live animals, because, Holt says, "Some things cannot be simulated artificially and have to be experienced."
Holt also teaches evolving applications of perfusion technology, such as autotransfusion. His students will likely be called upon to assist patients having massive internal bleeding resulting from traumatic injury or as a complication of surgery. Using special tools, perfusionists can recover blood that is hemorrhaging into a patient’s chest or abdominal cavities, recondition that blood, and then return it into circulation.
Instructing students in research methods is another part of Holt’s teaching role. Some perfusionists collaborate with other medical professionals to research and develop better perfusion techniques and tools, so research skills are important.
Sometimes, medical assistants, nurses, paramedics, or other healthcare workers choose to become perfusionists. They may already have a bachelor’s degree, so they may opt for a master’s or a certificate program in perfusion. Others may decide on this career in high school or early in college, so they may specialize sooner, pursuing a bachelor’s degree in the field. For example, Holt began his undergraduate education at Ohio State University, planning on a future in medical school, but he soon discovered Ohio State’s bachelor’s degree program in circulation technology. "That just caught my eye," he says. "I found it to be a nice mix of electronics and cardiac care, and I said, ‘Wow, that’s what I want to do.’" After becoming a perfusionist, Holt decided that he wanted to teach others, so he later earned a master’s degree in education.
Today, students who complete perfusion programs typically take a written exam administered by the American Board of Cardiovascular Perfusion to receive professional certification. The board requires continuing education credits and handling at least 40 perfusion cases each year to renew certification. Some States license perfusionists, but licensure may depend primarily on having board certification.
According to the American Society of Extra-Corporeal Technology, there are about 3,700 perfusionists currently employed in the United States. Holt estimates that starting salaries for perfusionists are about $58,000 to $61,000 per year and that earnings for those with 10 years of experience range from $85,000 to $100,000 per year. The Bureau of Labor Statistics does not collect data on perfusionists’ employment numbers or earnings.
If you’re like most people, you take for granted every heartbeat and every breath of air. But someday, your luck could run low—and that’s when you might need a perfusionist like Holt to help save the rest of your days on earth. "It’s gratifying," Holt says, "to find ways to save patients’ lives: to sustain them artificially, to enable them to have corrective surgery, to see them wake up and walk out of the hospital."
Matthew Mariani
Desktop publisher for the OOQ
You breathe. Your blood absorbs oxygen from your lungs. Your heart pumps the blood, transporting oxygen to all the cells of your body. If this natural rhythm stops, you will die.
Or maybe not. Under certain circumstances, a highly trained medical professional called a perfusionist can sustain the life of a person whose heart has been stopped. David Holt is such a professional. He uses biomedically engineered devices that support the vital life functions normally performed by the heart and lungs. Most commonly, perfusionists operate a heart-lung machine to keep a patient alive during open heart surgery. But their skills have other applications, too.
Holt flashes back to his early days as a perfusionist in describing the typical duties of the occupation. When assisting in a scheduled open heart surgery, Holt comes in to the hospital at 6 a.m., collects all the components of the heart-lung machine, assembles them aseptically, and makes sure the equipment works perfectly. Then, he waits for his cue.

A surgeon connects the patient to the heart-lung machine by inserting tubular instruments, called cannulas, into the proper blood vessels to bypass the heart and lungs. When the surgeon gives the order, Holt administers a drug that stops the patient’s heart. "Then the surgeons do their magic," says Holt, "while the perfusionist manages the patient’s lungs and bloodflow using the heart-lung machine."
Holt monitors the machine as it draws blood from the patient, adds oxygen, removes carbon dioxide, and then pumps the blood back into circulation. He adjusts the equipment as needed to ensure proper blood pressure and flow during the surgery
"It sounds simple," Holt says of his work, "but it takes somebody who can see small changes in events, evaluate them in rapid sequence, and think clearly in a highly volatile situation. Perfusionists have to be brave and believe in themselves and their training. They have to work well with other people, because they don’t work alone. They work with a surgeon and an anesthesiologist as part of a team."
According to Holt, the average cardiac surgery takes a little more than 3 hours. Often, a perfusionist has additional roles before and after surgery. Holt may help prepare for a surgery using cardiovascular monitoring techniques. "The heart is a complex pump," he says, "and to get the proper information, we need the proper monitoring devices in place."

In addition, Holt may use devices that assist the functioning of a failing heart to keep a patient alive until surgery can be done. He also may use such devices for days or weeks after surgery to support circulation until the heart regains its strength. Some perfusionists acquire expertise in pacing technology, as well. They help restart a patient’s heart after cardiac surgery or stabilize an irregular heartbeat using electrical pacemakers or defibrillating devices.

Like most perfusionists, Holt does not have a set work schedule. He spends some time on call and may have to rush to the hospital for an emergency. "If you’re a clock watcher," he says, "you could not do the job. It’s a 24-hour-a-day, 7-day-a-week responsibility."
Most perfusionists spend all of their work hours in a hospital—as did Holt, when he started out 24 years ago. Although he still does perfusion, Holt now changes locales more often than the average perfusionist. He currently works for a medical transport company and serves as a professor of perfusion science.

Holt’s job with the medical transport company sends him around the country and around the world. He may work in the back of an ambulance, in a helicopter, in a jet, or from anyplace in which he has access to a computer that is connected to a modem.
Holt supports critically ill cardiac patients in transit to distant medical facilities where specialized heart surgeries are done. "I’ve done cardiac assist transports from as far away as Malaysia to the Mayo Clinic in Rochester, Minnesota," he says. "In that case, it was for a heart transplant." Oftentimes, Holt does not actually travel with the patient. "I’m able to dial in to cardiac monitoring devices from a remote location," he says, "and communicate with medical personnel by fax or cell phone to help manage a patient’s circulatory function and assist in troubleshooting."
As an instructor at the Ohio State University and at the University of Nebraska Medical College, Holt trains perfusionists through extensive hands-on practice and lectures. He shows students how to assemble, prime, and operate a heart-lung machine and related devices. The students must learn by practicing on live animals, because, Holt says, "Some things cannot be simulated artificially and have to be experienced."
Holt also teaches evolving applications of perfusion technology, such as autotransfusion. His students will likely be called upon to assist patients having massive internal bleeding resulting from traumatic injury or as a complication of surgery. Using special tools, perfusionists can recover blood that is hemorrhaging into a patient’s chest or abdominal cavities, recondition that blood, and then return it into circulation.
Instructing students in research methods is another part of Holt’s teaching role. Some perfusionists collaborate with other medical professionals to research and develop better perfusion techniques and tools, so research skills are important.
Sometimes, medical assistants, nurses, paramedics, or other healthcare workers choose to become perfusionists. They may already have a bachelor’s degree, so they may opt for a master’s or a certificate program in perfusion. Others may decide on this career in high school or early in college, so they may specialize sooner, pursuing a bachelor’s degree in the field. For example, Holt began his undergraduate education at Ohio State University, planning on a future in medical school, but he soon discovered Ohio State’s bachelor’s degree program in circulation technology. "That just caught my eye," he says. "I found it to be a nice mix of electronics and cardiac care, and I said, ‘Wow, that’s what I want to do.’" After becoming a perfusionist, Holt decided that he wanted to teach others, so he later earned a master’s degree in education.
Today, students who complete perfusion programs typically take a written exam administered by the American Board of Cardiovascular Perfusion to receive professional certification. The board requires continuing education credits and handling at least 40 perfusion cases each year to renew certification. Some States license perfusionists, but licensure may depend primarily on having board certification.
According to the American Society of Extra-Corporeal Technology, there are about 3,700 perfusionists currently employed in the United States. Holt estimates that starting salaries for perfusionists are about $58,000 to $61,000 per year and that earnings for those with 10 years of experience range from $85,000 to $100,000 per year. The Bureau of Labor Statistics does not collect data on perfusionists’ employment numbers or earnings.
If you’re like most people, you take for granted every heartbeat and every breath of air. But someday, your luck could run low—and that’s when you might need a perfusionist like Holt to help save the rest of your days on earth. "It’s gratifying," Holt says, "to find ways to save patients’ lives: to sustain them artificially, to enable them to have corrective surgery, to see them wake up and walk out of the hospital."
Tuesday, September 30, 2008
Kelelahan Yang tak tertahan
Ya ketika pekerjaan terasa penuh dengan tanggungjawab dan terkadang juga karena dalam kondisi yang menunggu lama akhirnya......

Huft tidur untuk sesaat memang sungguh nikmat yang sungguh luar biasa....




Tapi yang pasti dalam kondisi ini...tetap dalam kondisi stanby penuh alias waspada selalu untuk tempur lagi....
Huft tidur untuk sesaat memang sungguh nikmat yang sungguh luar biasa....




Tapi yang pasti dalam kondisi ini...tetap dalam kondisi stanby penuh alias waspada selalu untuk tempur lagi....
Sebuah Review Kehidupan Antara Ukhuwah ini

Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Ingin rasanya memacu kendaraan ini, namun jalanan penuh dengan kendaraan yang semakin banyak asap hitamnya. Berjalan merambat pelan seolah masih menyimpan banyak ruang yang kosong.
Sembari meredakan penat, Satu demi satu artis diradio mulai unjuk gigi. Menghias panas terik mentari dengan lagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang di hiasai sindiran ala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik sendu yang kurang pantas dilantunkan.
Kembali kuingat wajah ini
.jpg)



Ya ikhwan FIK UI...dulunya kepikiran makin berkurang tapi ternyata makin banyak per angkatan...Mantep dech
Monday, August 25, 2008
Matematika Gaji dan Logika Sedekah
Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.
Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.
"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."
"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?
"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa' keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.
"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?".
"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur". Saya semakin tertegun
Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.
***
Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
(email dari teman...sebagai bahan renungan kembali....)
Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.
"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."
"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?
"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa' keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.
"Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?".
"Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona'ah, ridha dan syukur". Saya semakin tertegun
Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.
***
Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
(email dari teman...sebagai bahan renungan kembali....)
Friday, June 06, 2008
Bagaimana diri ini berkembang…..
Ya suatu saat ketika ada dua insane keperawatan berdikusi dengan teman seprofesi namun beda Institusi(X dan Y) munculah perbincangan mengenai bagaimana karier pribadi masing-masing. Wah seru dan sedikit membosankan memang. Dimana seru karena itu sebuah tantangan dan membosankannya dilihat dari sisi sistem yang susah dibangun untuk mendukung terwujudkannya cita-cita tadi. Ceritanya sebagai berikut. Ketika Si Y ditanya sudah jadi apa…ya kita jawab namanya jadi pegawai baru ya seperti inilah. Pegawai tingkat awal yang harus banyak adaptasi dengan apa yang ada kataku. Terus gmana prospekmu,…ya mau apa dikata secara rasional sederhana akan sudah banyak S1 Keperawatan disini so kan nggak mungkin semuanya jadi pemimpin atau the best kan. Karena dikehidupan selalu ada besar kecil. Kemudian dia melanjutkan ke pertanyaan apakah anda akan bertahan dengan kondisi tersebut…….Ya pertanyaan sensitif memang tapi memang harus dijawab walaupun cuman formalitas. Jawaban adalah rizki semuanya dari ALLAH…Kepada dialah kita memohon dan sudah menjadi kewajiban kita bersyukur atas segalanya. Nah rasa syukur ini secara pribadi adalah bagaimana kita profesional dengan apa yang menjadi tanggungjawab kita dikerjaan tersebut katanya. Biarlah orang dan sistemnya yang menilai secara lahiriah. Masalah nanti saya dihargai, dinaikan jabatan, atau malah diputus kontrak biarlah sistem tadi mengevaluasinya.
Memang terkadang ada rasa berontak, kok seperti ini dan itu. Namun memang setiap orang punya bargaining sendiri. Dalam artian apakah diri ini dihargai sesuai dengan kompetensi dan skill-nya. Nah itu dikembalikan ke pribadi masing2. Nah pertanyaan kemudian bergulir ke si X, ”bagaimana dengan anda sendiri?” Langsung aja disodorkannya pertanyaan apakah akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kan kesempatan ada. Kata beliau”X”, begini...memang kesempatan ada, namun disini alaias ditempat kerjanya apa yang telah dicapai dengan pendidikan tersebut bukan menjadi jaminan dia mendapatkan rasa respect dari semuanya(baik secara posisi dikerjaan, aktualisasi di dalam unit kerja ataupun sampai salary). Faktor yang penting ditempat kerjanya adalah sisi pengalaman dan lama kerjanya untuk mencapai apa yang dia utarakan tadi. Jadi buat apa sekolah tinggi kalau jadinya mentok2 seperti ini...”pion”. ...huuuft...hening sejenak.
Memang berat ketika mendengarkan kesimpulan beliau. Memang banyak faktor yang memperngaruhi, sehingga kita berdua tak bisa menjustifikasikannya. Namun diakhir diskusi muncul sebuah kesimpulan dimana kesimpulan itu sesuai dengan prinsip mereka berdua dimana setiap insan harus terus lebih baik dari pada hari sebelumnya. Jadi kita berdua berkesimpulan bahwa mengembangkan karier itu hendaknya punya dasar ini dengan menyingkirkan faktor – faktor yang diatas telah dibahas. Faktor-faktor keduniawian dimana kedudukan, salary, aturan2 yang protokoler yang terkadang membelenggu, rasa aktualisasi yang ingin dipuaskan dan faktor seperti ekonomi bahkan impian personal yang merayu.
Jadi rasa ingin mengembangkan diri adalah bagaimana kita menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, dimana diri ini tak mau menjadi orang yang merugi karena lebih jelek dari hari sebelumnya atau sama dengan hari sebelumnya. Apa yang diperbuat semakin hari semakin mantap karena sesungguhnya memang itulah seharusnya fitrah manusia. Semoga sang maha Pengadil memberikan RizkiNya dengan sebaik-baik takdir hambanya.
Dan akhirnya diskusi itu berakhir, dengan sama-sama menghela nafas dalam dan beristighfar didalam hati karena memang sangat memungkinkan dalam percakapan tadi banyak sekali kekhilafan yang membawa2 nama orang ataupun institusi tanpa maksud menjelek2kan.
Semoga persaudaraan ini terus erat katanya..........Terus berkembanglah jadi lebih dewasa dan jauh lebih baik. Amin.
Memang terkadang ada rasa berontak, kok seperti ini dan itu. Namun memang setiap orang punya bargaining sendiri. Dalam artian apakah diri ini dihargai sesuai dengan kompetensi dan skill-nya. Nah itu dikembalikan ke pribadi masing2. Nah pertanyaan kemudian bergulir ke si X, ”bagaimana dengan anda sendiri?” Langsung aja disodorkannya pertanyaan apakah akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kan kesempatan ada. Kata beliau”X”, begini...memang kesempatan ada, namun disini alaias ditempat kerjanya apa yang telah dicapai dengan pendidikan tersebut bukan menjadi jaminan dia mendapatkan rasa respect dari semuanya(baik secara posisi dikerjaan, aktualisasi di dalam unit kerja ataupun sampai salary). Faktor yang penting ditempat kerjanya adalah sisi pengalaman dan lama kerjanya untuk mencapai apa yang dia utarakan tadi. Jadi buat apa sekolah tinggi kalau jadinya mentok2 seperti ini...”pion”. ...huuuft...hening sejenak.
Memang berat ketika mendengarkan kesimpulan beliau. Memang banyak faktor yang memperngaruhi, sehingga kita berdua tak bisa menjustifikasikannya. Namun diakhir diskusi muncul sebuah kesimpulan dimana kesimpulan itu sesuai dengan prinsip mereka berdua dimana setiap insan harus terus lebih baik dari pada hari sebelumnya. Jadi kita berdua berkesimpulan bahwa mengembangkan karier itu hendaknya punya dasar ini dengan menyingkirkan faktor – faktor yang diatas telah dibahas. Faktor-faktor keduniawian dimana kedudukan, salary, aturan2 yang protokoler yang terkadang membelenggu, rasa aktualisasi yang ingin dipuaskan dan faktor seperti ekonomi bahkan impian personal yang merayu.
Jadi rasa ingin mengembangkan diri adalah bagaimana kita menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, dimana diri ini tak mau menjadi orang yang merugi karena lebih jelek dari hari sebelumnya atau sama dengan hari sebelumnya. Apa yang diperbuat semakin hari semakin mantap karena sesungguhnya memang itulah seharusnya fitrah manusia. Semoga sang maha Pengadil memberikan RizkiNya dengan sebaik-baik takdir hambanya.
Dan akhirnya diskusi itu berakhir, dengan sama-sama menghela nafas dalam dan beristighfar didalam hati karena memang sangat memungkinkan dalam percakapan tadi banyak sekali kekhilafan yang membawa2 nama orang ataupun institusi tanpa maksud menjelek2kan.
Semoga persaudaraan ini terus erat katanya..........Terus berkembanglah jadi lebih dewasa dan jauh lebih baik. Amin.
Thursday, April 10, 2008
SetiAP PAgi Memacu Adrenalin,,Mengadu NYawA
Huft...hujan terus turun dari pagi tadi...berhenti...hujan lagi nggak ade bosennya ya. Tapi Itulah berkah tersendiri jika kita memang tahu hikmah dibelakang itu semua.
yAP SEBUAH PROLOG DAN MENGINGATKAN AKU SEWAKTU TADI PAGI JALANAN JAKARTA MACET SEPERTI BIASANYA DAN HUJAN LAGI. wAH JADI TERLAMBAT DECH. Namun yang terasa sewaktu tadi pagi adalah rasa buru2 yang memang sering terlatih tapa disadari sehingga harus memacu mkuda besiku secepat kilat. Bak pembalap di sirkuit. Dimana lampu hijau menyala...semua motor bak lebah mluncur dengan kecepatan BALAPAN. Wusftttt....adrenalinku pun terpancing. 100 km/jam naik lagi jadi 120 km/jam and jalur bus way pun diterjang....Wusft....
Tapi pas ditengah2 perjalanan terbersit bayang2 orang2 yang menanti dikerjaan....Eit sabar -sabar ...pelan2 gas dikendorkan lagi dan akhirnya pelan-pelan juga coz macet juga so gak bisa ngebalap lagi dech.
Ya itu sebuah cerita pribadi dan cerita jalanan jakarta di pagi hari pada umumnya. Lihat saja kalau nggak percaya....muda, tua, pelajar, ibu2 atau bahkan para eksmud bersepeda motor ketika lampu hijau perempatan pusat kota menyala????
Tiap pagi bisa jadi kita mengantarkan nyawa kita seiring dengan adrenalin yang terpacu secara alami
yAP SEBUAH PROLOG DAN MENGINGATKAN AKU SEWAKTU TADI PAGI JALANAN JAKARTA MACET SEPERTI BIASANYA DAN HUJAN LAGI. wAH JADI TERLAMBAT DECH. Namun yang terasa sewaktu tadi pagi adalah rasa buru2 yang memang sering terlatih tapa disadari sehingga harus memacu mkuda besiku secepat kilat. Bak pembalap di sirkuit. Dimana lampu hijau menyala...semua motor bak lebah mluncur dengan kecepatan BALAPAN. Wusftttt....adrenalinku pun terpancing. 100 km/jam naik lagi jadi 120 km/jam and jalur bus way pun diterjang....Wusft....
Tapi pas ditengah2 perjalanan terbersit bayang2 orang2 yang menanti dikerjaan....Eit sabar -sabar ...pelan2 gas dikendorkan lagi dan akhirnya pelan-pelan juga coz macet juga so gak bisa ngebalap lagi dech.
Ya itu sebuah cerita pribadi dan cerita jalanan jakarta di pagi hari pada umumnya. Lihat saja kalau nggak percaya....muda, tua, pelajar, ibu2 atau bahkan para eksmud bersepeda motor ketika lampu hijau perempatan pusat kota menyala????
Tiap pagi bisa jadi kita mengantarkan nyawa kita seiring dengan adrenalin yang terpacu secara alami
Dimana letak kesalahan itu
Kita punya hutan lebat….tapi tak produktif dan terus ditebang….hasilnya bencana
Kita punya lahan subur....tapi tak produktif dan terus dibangun Pusat Bisnis Konsumtif.....hasilnya kita impor beras, gula, bahkan tepung
Kita punya bisnis UKM....tapi tak sehat bersaingnya....hasilnya banyak pengawet, pewarna makanan, campuran berbahaya,
Kita punya banyak institusi pendidikan .....tapi tak didirikan sesuai standart....hasilnya lulusan jadi pengangguran dan menjadi beban
Kita punya lulusan intelektual bagus ..... tapi banyak yang tak bekerja di bidang aslinya .... hasilnya jadilah pekerja-pekerja bukan jadi pembuat pekerjaan baru.....
DIMANAKAH LETAK KESALAHAN ITU ............................
Kita punya lahan subur....tapi tak produktif dan terus dibangun Pusat Bisnis Konsumtif.....hasilnya kita impor beras, gula, bahkan tepung
Kita punya bisnis UKM....tapi tak sehat bersaingnya....hasilnya banyak pengawet, pewarna makanan, campuran berbahaya,
Kita punya banyak institusi pendidikan .....tapi tak didirikan sesuai standart....hasilnya lulusan jadi pengangguran dan menjadi beban
Kita punya lulusan intelektual bagus ..... tapi banyak yang tak bekerja di bidang aslinya .... hasilnya jadilah pekerja-pekerja bukan jadi pembuat pekerjaan baru.....
DIMANAKAH LETAK KESALAHAN ITU ............................
Friday, March 21, 2008
Di Sebuah Refleksi Perjalanan Awal Transisi
Ya sore itu kita semua berkumpul disebuah mushola kecil didepan rumah. Sebuah obrolan kecilpun dimulai sambil mengenang masa lalu yang tak akan pernah terlupa. Nostalgia dan sebuah pertemuan yang dinanti setelah sekian lama tak bersua setelah sekian lama bertualang.
Sebuah obrolan dari masing2 orang dimushola tersebut merefleksikan setiap transisi yang sedang meraka alami.
.....Session one...
Seorang diantaranya menceritakan dimana setelah pasca kampus sepertinya segala cerita berubah. Dimana dulunya hidup di suasana yang serba idealis dimana segala sarana aktualisasi, sarana belajar, dan sarana berinteraksi begitu terbingkai dengan sisi religi berubah. Dimana kehidupan direalita masyarakat mengharuskan dirinya untuk “berakrobat” mencara jati diri kembali. Memang pembicaraannya lebih banyak terkait dengan sisi bagaimana dia mencari “segenggam nasi” minimal untuk dirinya. Ya berbekal dengan ilmu yang telah ditimba sekian lama, dimana dulu kuliah dipercepat nggak bisa dan kuliahpun tak tahu harus kemana dia implementasikan itu ilmu...karena bimbang katanya.... Ya “akrobat” kehidupanpun dilakukan. Semua sisi pekerjaan yang berkait dengan ilmunyapun dicoba, satu dua bulan keluar masuk karena nggak cocok.
Alhamdulillah akhirnya dapat pekerjaan dibelakang meja tapi terlalu pasif. Ya mungkin tak cocok dengan tipikalnya yang memang sedikit senang aktif “berjalan-jalan” menyebarkan virus-virus semangat dan ketrampilan individu dalam kehidupan. Ya akhirnya diputus kontrak juga setelah dievaluasi kinerjanya tak maksimal...ya akhirnya mencari pekerjaan lagi.......
.....Session two...
Nah kemudian teman yang satunya berkomentar...kesabaran dan keuletan” dirimu akan mengahsilkan sesuatu yang besar...terus berjuang kawan....
Sembari menarik nafas dalam, dirinya juga ikut bercerita bahwa dulu kehidupannya juga sama. Karena keinginan untuk segera menikah membuat dirinya keluar masuk ke pekerjaan baru untuk segera memenuhi pundi-pundi tabungan untuk modal menikah. Nah setelah menikah segala sesuatu berubah lagi. Tuntutan sekarang tak hanya dari diri sendiri, tapi dari istri, keluarga dan masyarakat. Nah akhirnya segala upaya dia lakukan termasuk memasuki sebuah pekerjaan yang dia tahu ”track record” managementnya jelek. Namun karena masa penantian pekerjaan yang lebih baik tak kunjung tiba, maka diambil peluang itu. Namun setelah 6 bulan bekerja..rasanya fisik tak kuat karena ternyata kerjanya serabutan tak jelas Job Deskripsinya, pokoknya segala sesuatu dilakukan dikantornya. Dan aktivitas bisa mobile terus untuk mengontrol beberapa area proyek kerja kantornya.
Nah akhirnya dia merasa seperti tak ada masa depan kalau diteruskan disini,.....akhirnya segala cara untuk loncat ke pekerjaan lainpun dilakukan...tapi ternyata pekerjaan yang lebih baikpun beluam ketangkap. Akhirnya kepikiran untuk pulang kampungpun terlintas. ...Huft....Berjuang bersama istri disana katanya??? Udah sumpek dijakarta.
....Session Three....
Kok kedua cerita tersebut diaminin oleh teman yang ketiga yang ada disitu. Dia sekarang menjadi seorang ayah yang berjibaku tiap harinya dari pagi sampai sore. Samapi-sampai ketemu si kecil(umur masih 7 bulan) sudah tidur. Rasa ingin bercandapun tak kunjung tiba dihari hectic day. So tinggal sabtu minggu yang membuat dirinya full day bersama keluarga. Dan hari tersebutpun tak bisa diganggu gugat lagi. Ya kata dia mungkin beginilah jalan cerita yang harus dilewati untuk mencari bekal kehidupan. Ya bekal kehidupan didunia dan akhirat.
....Next....
Dan diakhir obrolan tersebut dia menyimpilkan bahwa pasca kampus memang waktunya yang muda terus berakrobat menemukan kariernya yang tepat. Ada yang merasa tak kunjung ketemu ”track” yang tepat dalam waktu dekat dan ada juga yang langsung ketemu jalan kariernya sehingga bisa lebih memfokuskan skill dan ilmunya disana.
Kemudian transisi selanjutnya adalah berkeluarga, dimana suatu fitrah untuk menjawab tantangan psikologis, fisik, dan regenerasi. Dimana segala komponen individu dilebur dengan kedua belah pihak. Tak hanya sang istri dan suami tapi beserta keluarga besarnya. Disini akrobat pekerjaan akan semakin berat jika tak segera menemukan track recordnya. Kesabaran mungkin menjadi salah satu jawaban untuk melalui segala hal diawal pernikahan.
Nah transisi yang slanjutnya adalah kehidupan yang diamanahi seorang anak. Ya anak yang membuat orang tua tenang bahkan termotivasi untuk terus berbuat yang lebih baik lagi. Dan Jika kehidupan pekerjaan tak bisa dilakukan eskalasi, maka ya mungkin itu sudah menjadi beban tersendiri. Karena segala sesuatu harus dipikirkan dari banyak faktor.
Ya itu mungkinsedikit cerita dari 3 serangkai teman seperjuangan yang dulu pernah berpisah dan sekarang sedang berkupul untuk bersama-sama lagi.
Sebuah obrolan dari masing2 orang dimushola tersebut merefleksikan setiap transisi yang sedang meraka alami.
.....Session one...
Seorang diantaranya menceritakan dimana setelah pasca kampus sepertinya segala cerita berubah. Dimana dulunya hidup di suasana yang serba idealis dimana segala sarana aktualisasi, sarana belajar, dan sarana berinteraksi begitu terbingkai dengan sisi religi berubah. Dimana kehidupan direalita masyarakat mengharuskan dirinya untuk “berakrobat” mencara jati diri kembali. Memang pembicaraannya lebih banyak terkait dengan sisi bagaimana dia mencari “segenggam nasi” minimal untuk dirinya. Ya berbekal dengan ilmu yang telah ditimba sekian lama, dimana dulu kuliah dipercepat nggak bisa dan kuliahpun tak tahu harus kemana dia implementasikan itu ilmu...karena bimbang katanya.... Ya “akrobat” kehidupanpun dilakukan. Semua sisi pekerjaan yang berkait dengan ilmunyapun dicoba, satu dua bulan keluar masuk karena nggak cocok.
Alhamdulillah akhirnya dapat pekerjaan dibelakang meja tapi terlalu pasif. Ya mungkin tak cocok dengan tipikalnya yang memang sedikit senang aktif “berjalan-jalan” menyebarkan virus-virus semangat dan ketrampilan individu dalam kehidupan. Ya akhirnya diputus kontrak juga setelah dievaluasi kinerjanya tak maksimal...ya akhirnya mencari pekerjaan lagi.......
.....Session two...
Nah kemudian teman yang satunya berkomentar...kesabaran dan keuletan” dirimu akan mengahsilkan sesuatu yang besar...terus berjuang kawan....
Sembari menarik nafas dalam, dirinya juga ikut bercerita bahwa dulu kehidupannya juga sama. Karena keinginan untuk segera menikah membuat dirinya keluar masuk ke pekerjaan baru untuk segera memenuhi pundi-pundi tabungan untuk modal menikah. Nah setelah menikah segala sesuatu berubah lagi. Tuntutan sekarang tak hanya dari diri sendiri, tapi dari istri, keluarga dan masyarakat. Nah akhirnya segala upaya dia lakukan termasuk memasuki sebuah pekerjaan yang dia tahu ”track record” managementnya jelek. Namun karena masa penantian pekerjaan yang lebih baik tak kunjung tiba, maka diambil peluang itu. Namun setelah 6 bulan bekerja..rasanya fisik tak kuat karena ternyata kerjanya serabutan tak jelas Job Deskripsinya, pokoknya segala sesuatu dilakukan dikantornya. Dan aktivitas bisa mobile terus untuk mengontrol beberapa area proyek kerja kantornya.
Nah akhirnya dia merasa seperti tak ada masa depan kalau diteruskan disini,.....akhirnya segala cara untuk loncat ke pekerjaan lainpun dilakukan...tapi ternyata pekerjaan yang lebih baikpun beluam ketangkap. Akhirnya kepikiran untuk pulang kampungpun terlintas. ...Huft....Berjuang bersama istri disana katanya??? Udah sumpek dijakarta.
....Session Three....
Kok kedua cerita tersebut diaminin oleh teman yang ketiga yang ada disitu. Dia sekarang menjadi seorang ayah yang berjibaku tiap harinya dari pagi sampai sore. Samapi-sampai ketemu si kecil(umur masih 7 bulan) sudah tidur. Rasa ingin bercandapun tak kunjung tiba dihari hectic day. So tinggal sabtu minggu yang membuat dirinya full day bersama keluarga. Dan hari tersebutpun tak bisa diganggu gugat lagi. Ya kata dia mungkin beginilah jalan cerita yang harus dilewati untuk mencari bekal kehidupan. Ya bekal kehidupan didunia dan akhirat.
....Next....
Dan diakhir obrolan tersebut dia menyimpilkan bahwa pasca kampus memang waktunya yang muda terus berakrobat menemukan kariernya yang tepat. Ada yang merasa tak kunjung ketemu ”track” yang tepat dalam waktu dekat dan ada juga yang langsung ketemu jalan kariernya sehingga bisa lebih memfokuskan skill dan ilmunya disana.
Kemudian transisi selanjutnya adalah berkeluarga, dimana suatu fitrah untuk menjawab tantangan psikologis, fisik, dan regenerasi. Dimana segala komponen individu dilebur dengan kedua belah pihak. Tak hanya sang istri dan suami tapi beserta keluarga besarnya. Disini akrobat pekerjaan akan semakin berat jika tak segera menemukan track recordnya. Kesabaran mungkin menjadi salah satu jawaban untuk melalui segala hal diawal pernikahan.
Nah transisi yang slanjutnya adalah kehidupan yang diamanahi seorang anak. Ya anak yang membuat orang tua tenang bahkan termotivasi untuk terus berbuat yang lebih baik lagi. Dan Jika kehidupan pekerjaan tak bisa dilakukan eskalasi, maka ya mungkin itu sudah menjadi beban tersendiri. Karena segala sesuatu harus dipikirkan dari banyak faktor.
Ya itu mungkinsedikit cerita dari 3 serangkai teman seperjuangan yang dulu pernah berpisah dan sekarang sedang berkupul untuk bersama-sama lagi.
Ya ketika memasuki masa libur panjang seperti esok hari maka semua kru Ruang Bedah (Dokter Bedah, Perfuionist, Anestesi, Perawat) bergembira.....

Dan Jadwal untuk On Call / Stand by di hari libur jadi rebutan tersendiri. Karena ya…libur…libur kan seharusnya bersma keluarga……So…

He2x liburan jadi rebutan….Ya Semoga Bisa Menjadi Berkah Liburannya Yap

Dan Jadwal untuk On Call / Stand by di hari libur jadi rebutan tersendiri. Karena ya…libur…libur kan seharusnya bersma keluarga……So…

He2x liburan jadi rebutan….Ya Semoga Bisa Menjadi Berkah Liburannya Yap
Wednesday, February 28, 2007
Hanya sebuah tulisan....
DiBalik HAM yang terus diperjuangkan, ada bebrapa Perawat Berjilbab semakin tertekan…….
Sebut satu saja salah pekerjaan yang sangat mulia, jawaban yang mungkin paling banyak muncul adalah perawat. Betapa tidak, merawat pasien yang sedang sakit adalah pekerjaan yang sangat sulit. Tak semua orang bisa memiliki kesabaran dalam melayani orang yang tengah menderita penyakit.
Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan. Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai ”body of knowledge” yang spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi. Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang pendidikan tinggi dimana disana mereka akan dibelakali skill keperawatan, pelaksanaan keperawatan profesional terkini, isu etik dan spiritual dalam asuhan keperawatan, pemahaman profesionalisme dalam keperawatan dan pemeliharaan kualitas dalam menunjang peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Namun perjuangan untuk berkembangnya profesi ini seakan-akan dibentur-benturkan dengan berbagai realitas. Salah satu contoh realitas tersebut antara lain sedikit terkekangnya perawat yang berjilbab untuk mengaktualisasikan identitasnya. Sebuah polemik sosial yang cukup memprihatinkan ketika perawat muslimah diharuskan memilih, “mempertahankan keyakinan atau memenuhi urusan perut,..??”. Ya inilah realita ketika hukum rimba diberlakukan….siapa yang teguh tapi lemah pasti tersingkir karena masih banyak yang mengantri pekerjaan ini dibelakang perawat2 berjilbab tadi.
Sebuah realita bahwa sebenarnya masih banyak rumah sakit yang tidak menerima perawat berjilbab tanpa jelas alasannya. Lucu memang…ketika sebuah Hak Asasi Manusia (HAM) sedang diperjuangkan di dan oleh semua lini, Namun kenyataan di sector kesehatan ini menjadi fenomena semu karena memang posisi perawat seakan-akan atau bahkan memang lemah adanya. Kapankah perawat dapat mengusung salah satu agenda dengan judul besar perjuangan “Telah terjadi pelanggaran HAM terhadap Perawat Muslimah”.
Terilhami oleh diskusi kecil sambil menikmati makanan di sebuah ruangan tempat para perawat dari beberapa daerah di Indonesia dikirim untuk belajar singkat. Dimana didiskusi tersebut ada beberapa orang yang harus merelakan keyakinannya……….
…...TANTANGAN UNTUK PARA PRAKTISI PERAWAT NEGERI INI……
Sebut satu saja salah pekerjaan yang sangat mulia, jawaban yang mungkin paling banyak muncul adalah perawat. Betapa tidak, merawat pasien yang sedang sakit adalah pekerjaan yang sangat sulit. Tak semua orang bisa memiliki kesabaran dalam melayani orang yang tengah menderita penyakit.
Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan. Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai ”body of knowledge” yang spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi. Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang pendidikan tinggi dimana disana mereka akan dibelakali skill keperawatan, pelaksanaan keperawatan profesional terkini, isu etik dan spiritual dalam asuhan keperawatan, pemahaman profesionalisme dalam keperawatan dan pemeliharaan kualitas dalam menunjang peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Namun perjuangan untuk berkembangnya profesi ini seakan-akan dibentur-benturkan dengan berbagai realitas. Salah satu contoh realitas tersebut antara lain sedikit terkekangnya perawat yang berjilbab untuk mengaktualisasikan identitasnya. Sebuah polemik sosial yang cukup memprihatinkan ketika perawat muslimah diharuskan memilih, “mempertahankan keyakinan atau memenuhi urusan perut,..??”. Ya inilah realita ketika hukum rimba diberlakukan….siapa yang teguh tapi lemah pasti tersingkir karena masih banyak yang mengantri pekerjaan ini dibelakang perawat2 berjilbab tadi.
Sebuah realita bahwa sebenarnya masih banyak rumah sakit yang tidak menerima perawat berjilbab tanpa jelas alasannya. Lucu memang…ketika sebuah Hak Asasi Manusia (HAM) sedang diperjuangkan di dan oleh semua lini, Namun kenyataan di sector kesehatan ini menjadi fenomena semu karena memang posisi perawat seakan-akan atau bahkan memang lemah adanya. Kapankah perawat dapat mengusung salah satu agenda dengan judul besar perjuangan “Telah terjadi pelanggaran HAM terhadap Perawat Muslimah”.
Terilhami oleh diskusi kecil sambil menikmati makanan di sebuah ruangan tempat para perawat dari beberapa daerah di Indonesia dikirim untuk belajar singkat. Dimana didiskusi tersebut ada beberapa orang yang harus merelakan keyakinannya……….
…...TANTANGAN UNTUK PARA PRAKTISI PERAWAT NEGERI INI……
Saturday, February 03, 2007
The last.......Akhir rutinitas di OK ku
Nah hasil operasi bisa lancar or not.....so jadi bisa pulang sore or tengah malem nich....Nah kalau kejadiaannya selesai cepat maka ... kite-kite yang cowok pada ganti baju dech....

Gambar 13. He2x mungkin di kamar ganti cewek sama aja kali ye.......
Setelah beres ganti baju so kita biasanya ngeliat jadwal lagi untu tugas dinas besok or jadwal operasi besok hari.......

Gambar 14. Bisa happy today(operasi cuman dikit)...bukan berarti bisa happy esok hari(operasi bisa borongan).....
Ya begitulah sedikit cerita singkat di ruang kerja ku...hik...hik...ini cuman melampiaskan sedikit rutinitas diri biar nggak jadi kebosanan yang parah...............
Thanks to Mas Wowo si Karikatur ”perawat anestesi” dan pemilik hak cipta karikatur ini

Gambar 13. He2x mungkin di kamar ganti cewek sama aja kali ye.......
Setelah beres ganti baju so kita biasanya ngeliat jadwal lagi untu tugas dinas besok or jadwal operasi besok hari.......

Gambar 14. Bisa happy today(operasi cuman dikit)...bukan berarti bisa happy esok hari(operasi bisa borongan).....
Ya begitulah sedikit cerita singkat di ruang kerja ku...hik...hik...ini cuman melampiaskan sedikit rutinitas diri biar nggak jadi kebosanan yang parah...............
Thanks to Mas Wowo si Karikatur ”perawat anestesi” dan pemilik hak cipta karikatur ini
Subscribe to:
Posts (Atom)